Survei Nasional Ungkap Potret Baru ZISWAF Muslim Indonesia: Filantropi Islam Bergerak ke Arah Pemberdayaan dan Pembangunan

 Survei Nasional Ungkap Potret Baru ZISWAF Muslim Indonesia: Filantropi Islam Bergerak ke Arah Pemberdayaan dan Pembangunan



Jakarta, - Potret dan perilaku ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf) Muslim Indonesia mengalami perubahan signifikan. Masyarakat Muslim kini tidak lagi hanya memandang zakat dan wakaf sebatas bantuan konsumtif, melainkan sebagai instrumen strategi untuk mengentaskan kemiskinan, pemberdayaan ekonomi, pendidikan, hingga mendukung agenda pembangunan nasional, Jumat (5/6/2026).


Hal itu terungkap dalam Rilis Offline Temuan Survei Nasional Potret dan Perilaku ZISWAF Muslim Indonesia yang menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Prof. Burhanuddin Muhtadi, MA, Ph.D. (Pendiri dan Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia), Prof. Dr. H. Waryono Abdul Ghafur, M.Ag. (Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI), Prof. Amelia Fauzia, MA, Ph.D. (Direktur Social Trust Fund UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), serta Dr. Ahmad Juwaini (Ketua Dewan Pengurus Dompet Dhuafa).


Dalam sambutannya, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI, Prof. H. Waryono Abdul Ghafur, M.Ag., menegaskan bahwa hasil survei ini menjadi pijakan penting dalam penyusunan kebijakan berbasis data.


“Selama ini kami masih mengacu pada angka potensi zakat sekitar Rp327 triliun yang seolah-olah menjadi angka baku. Survei terbaru ini diharapkan memberikan gambaran baru mengenai wajah ZISWAF Indonesia saat ini,” ujarnya.


Ia menambahkan bahwa ekosistem zakat dan wakaf membutuhkan kolaborasi banyak pihak, terutama lembaga filantropi yang dinilai memiliki peran besar dalam mendukung negara. Kehadiran lembaga filantropi, menurutnya, telah memberikan kontribusi nyata, khususnya saat terjadi berbagai bencana di sejumlah wilayah Indonesia.


“Kehadiran masyarakat melalui lembaga filantropi bukan sekadar mendukung program pemerintah, tetapi menjadi bukti bahwa masyarakat juga hadir untuk sesama,” tambahnya.


Sementara itu, Pendiri dan Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Prof. Burhanuddin Muhtadi, memaparkan hasil survei yang menunjukkan adanya perubahan pola pikir masyarakat Muslim dalam memandang pendayagunaan dana ZISWAF.


Temuan menunjukkan bahwa pengentasan kemiskinan menjadi prioritas utama masyarakat. Sebanyak 36 persen responden menilai zakat mal dan dana hasil pengelolaan wakaf paling penting ditujukan untuk mengatasi kemiskinan, disusul bantuan kemanusiaan, pendidikan, dakwah, hingga pemberdayaan ekonomi.


“Jangan ragu jika lembaga ingin memperkuat program pengentasan kemiskinan. Aspirasi publik sudah sangat kuat mengarah ke sana,” jelas Burhanuddin.


Di sektor pendidikan, masyarakat menilai bantuan dana ZISWAF paling dibutuhkan untuk pembangunan dan perbaikan sekolah, pemberian beasiswa, serta peningkatan sarana pembelajaran.


Sedangkan pada sektor pemberdayaan ekonomi, peningkatan keterampilan masyarakat seperti petani, nelayan, peternak, pedagang, hingga pelaku usaha kecil menjadi prioritas utama.


Menariknya, kelompok pedagang kecil, pedagang kaki lima, hingga kemiskinan menjadi kelompok yang dianggap paling membutuhkan intervensi program pemberdayaan ekonomi.


Di bidang kesehatan, sebagian besar responden menginginkan dana filantropi Islam difokuskan pada peningkatan akses subsidi kesehatan bagi masyarakat kurang mampu.


Sementara bantuan pada program pengentasan kemiskinan, tunai langsung dan kupon makanan bagi masyarakat miskin menjadi pilihan tertinggi responden.


Direktur Social Trust Fund UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Amelia Fauzia, menegaskan bahwa hasil survei menunjukkan masyarakat Muslim Indonesia kini memiliki pandangan yang lebih progresif terhadap peran filantropi Islam.

Temuan penting lainnya menunjukkan tingginya dukungan masyarakat terhadap penggunaan zakat secara produktif. Sebanyak 81 persen responden menyetujui dana zakat dimanfaatkan untuk tujuan produktif yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.


Selain itu, masyarakat juga mendukung penggunaan dana zakat dan wakaf untuk agenda pembangunan nasional, termasuk program-program produktif pemerintah.

Temuan ini menunjukkan bahwa filantropi Islam Indonesia sedang bergerak menuju paradigma baru — dari sekadar bantuan sesaat menjadi instrumen pembangunan sosial yang berkelanjutan.


Survei ini diharapkan dapat menjadi referensi penting bagi pemerintah, regulator, lembaga zakat, lembaga wakaf, serta seluruh pemangku kepentingan dalam merancang kebijakan dan program filantropi yang lebih tepat sasaran di masa mendatang.

Ayo! Baca Juga
Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler

Iklan


Iklan



نموذج الاتصال