Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates

Iklan

Ingat, Dunia Sering Tak Ramah pada Laki-Laki yang Miskin

Growmedia
Sabtu, 15 Agustus 2026
Last Updated 2026-08-15T02:10:09Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
CEK SEMUA LAYANAN KAMI DISINI

Penulis: Eqi Fitri Marehan, S.I.Kom


Pernahkah kita benar-benar berhenti sejenak dan merenungkan satu kenyataan yang pahit namun nyata: dunia ini, dengan segala aturan, pandangan, dan sistemnya, seringkali jahat — terlebih kepada laki-laki yang hidup dalam kemiskinan. Kalimat ini terdengar keras, mungkin bagi sebagian orang terlalu sinis atau berlebihan. Namun jika kita jujur membuka mata hati dan melihat realitas di sekeliling kita, kalimat itu sesungguhnya menyimpan kebenaran yang tak terbantahkan.

Sejak kecil, laki-laki dibesarkan dengan satu doktrin yang tertanam kuat di sanubari: kelak kau harus menjadi tulang punggung, menjadi pelindung, menjadi penopang. Laki-laki diajarkan untuk tidak lemah, tidak mengeluh, tidak meneteskan air mata secara terbuka. Bahwa harga dirinya diukur dari seberapa besar ia mampu memberi, seberapa kuat ia menghidupi, dan seberapa jauh ia mampu menjamin kesejahteraan orang-orang yang dicintainya — istri, anak, orang tua. Laki-laki dibebani ekspektasi sosial yang begitu berat: ia harus sukses, harus mapan, harus berdiri di atas kakinya sendiri.

Masalah muncul ketika takdir dan keadaan belum berpihak. Ketika seorang laki-laki berusaha sekuat tenaga, bekerja dari fajar hingga petang, berkeringat dan menahan lelah, namun tetap saja rezeki yang datang belum mencukupi standar kecukupan yang ditetapkan dunia. Di saat itulah kita mulai melihat wajah asli dunia yang jahat itu.

Lihatlah bagaimana pandangan mata orang berubah saat mengetahui seorang laki-laki belum memiliki harta, belum punya rumah, belum punya kendaraan layak, atau penghasilan pas-pasan. Rasa hormat yang seharusnya menjadi hak setiap manusia — karena ia manusia — perlahan menipis, bahkan lenyap. Ia dipandang sebelah mata. Dianggap kurang mampu, kurang berharga, kurang "berhasil" sebagai laki-laki. Dalam pergaulan, suaranya kerap tak didengar, pendapatnya dianggap kurang berbobot, keberadaannya nyaris tak terasa.

Dalam urusan asmara dan membangun keluarga, penderitaan batin itu seringkali menjadi lebih tajam. Banyak laki-laki yang akhirnya menelan pil pahit: harus merelakan orang yang dicintainya, bukan karena kurang cinta, melainkan karena kurang biaya. Ia sadar betul, dengan kondisi ekonominya yang serba pas-pasan, ia belum mampu memberikan masa depan yang layak. Ia menahan diri untuk tidak melamar, takut tidak bisa memberi nafkah yang baik, takut pasangannya hidup susah. Rasa malu, rasa bersalah, rasa tidak berguna sebagai laki-laki menggerogoti hatinya hari demi hari.

Lebih menyakitkan lagi, kemiskinan pada laki-laki kerap disalahpahami sebagai tanda kemalasan, kurang berusaha, atau kurang berdoa. Padahal kenyataannya, banyak laki-laki miskin yang justru bekerja paling keras, paling rajin, paling gigih — namun sistem dan kesempatan tidak berpihak kepada mereka. Mereka terjebak dalam lingkaran setan: lahir miskin, tumbuh tanpa akses pendidikan layak, dewasa dengan keterbatasan keterampilan, lalu bekerja di sektor informal dengan upah rendah, dan akhirnya menua dalam keterbatasan yang sama. Dunia seolah membangun tembok tinggi yang sulit dipanjat bagi mereka yang lahir tanpa modal.

Belum lagi beban sosial yang menghimpit. Saat laki-laki miskin tertimpa musibah atau sakit, biaya pengobatan menjadi mimpi yang mahal. Saat ia butuh bantuan, tak banyak tangan yang terulur. Ia belajar bahwa di dunia ini, seringkali solidaritas dan pertolongan pun punya harga. Ia belajar menelan sendiri kesedihannya, menanggung sendiri bebannya — karena ia tahu, menangis pun tak akan mengubah keadaan, dan mengeluh hanya akan membuatnya dipandang lemah.

Namun, di tengah kejamnya dunia itu, mari kita berhenti sejenak memberi penghormatan yang tulus kepada setiap laki-laki yang tetap tegar berdiri meski pundak terasa berat. Kepada mereka yang tetap bekerja jujur meski upah tak seberapa. Kepada mereka yang tetap tersenyum di depan keluarga meski di dalam hati menyimpan ribuan kegelisahan. Kepada mereka yang tidak mencuri, tidak merugikan orang lain, dan tetap menjaga kehormatan dirinya meski dompetnya sering kali tipis.

Ingatlah: nilai sejati seorang laki-laki tidak terukur dari tebalnya dompet, megahnya rumah, atau kinclongnya kendaraan. Nilainya terukur dari kejujurannya di tengah kekurangan, keteguhannya di tengah badai, tanggung jawabnya yang tak pernah lelah, dan hatinya yang tetap hangat meski dunia terasa dingin.

Dan bagi dunia ini, mari kita belajar untuk lebih manusiawi. Berhentilah menilai manusia hanya dari apa yang dimilikinya, bukan dari siapa dirinya. Berhentilah menghakimi laki-laki hanya dari berapa angka penghasilannya. Sebab bisa jadi, laki-laki yang hari ini kau pandang rendah karena miskin, justru adalah orang yang paling tulus berjuang, paling bersih hatinya, dan paling dekat kasih sayangnya kepada sesama — jauh lebih kaya dari mereka yang hartanya berlimpah namun hatinya kosong.

Ya, dunia memang sering jahat kepada laki-laki yang miskin. Tapi ingatlah, kejahatan dunia itu tidak pernah berhak mematikan semangat, kehormatan, dan harga diri seorang laki-laki yang memilih tetap berjalan lurus — dengan atau tanpa harta di genggamannya.

 

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Tidak ada komentar:

Iklan