Jakarta,growmedia-indo.com -
Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), berbagai gagasan mengenai arah kepemimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia terus mengemuka. Salah satunya mengemuka dalam Serial Diskusi Muktamar Ke-35 NU bertajuk "Mencari Format Ideal Kepemimpinan NU", pada hari Jumat (31/7/2026) di Resto Trisnoku, Jakarta, yang menghadirkan sejumlah tokoh nasional, di antaranya Dr. AS Hikam, pengamat politik era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Prof. Dr. Hanief Saha Ghafur, Guru Besar Universitas Indonesia sekaligus mantan Ketua PBNU, serta KH. Faris Fuad Hasyim (Gus Faris), Pengasuh Pondok Pesantren Nadwatul Ummah, Bunter.
Diskusi berlangsung secara dinamis dengan menyoroti tantangan yang dihadapi Nahdlatul Ulama dalam menghadapi perubahan zaman, sekaligus merumuskan karakter kepemimpinan yang dinilai mampu membawa organisasi semakin kuat dalam membina umat, menjaga persatuan bangsa, serta menjawab tantangan global.
Dalam wawancara dengan awak media, KH. Faris Fuad Hasyim (Gus Faris) menegaskan bahwa kepemimpinan PBNU ke depan harus dipimpin oleh sosok yang memiliki kapasitas keilmuan yang luas, tidak hanya menguasai ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga memahami persoalan sosial, ekonomi, politik, teknologi, hingga dinamika kebangsaan.
“Pemimpin NU ke depan harus memiliki dimensi keilmuan yang sangat luas. Tidak cukup hanya memahami ilmu agama, tetapi juga harus mampu membaca perkembangan dunia, sehingga NU tetap relevan menjawab tantangan zaman,” ujarnya.
Selain kapasitas intelektual, Gus Faris menilai kemampuan membangun komunikasi menjadi syarat mutlak bagi calon pemimpin NU. Menurutnya, komunikasi yang dibangun tidak hanya bersifat struktural melalui organisasi, tetapi juga komunikasi kultural yang selama ini menjadi kekuatan utama Nahdlatul Ulama.
Ia menilai komunikasi kultural merupakan identitas khas NU yang lahir dari hubungan erat antara para kiai sepuh, pesantren, santri, dan masyarakat. Nilai spiritual serta keilmuan para ulama harus tetap menjadi fondasi dalam setiap pengambilan kebijakan organisasi.
“Komunikasi struktural memang penting, tetapi komunikasi kultural jauh lebih penting sebagai warna khas Nahdlatul Ulama. Di situlah peran para kiai sepuh, ulama, dan pesantren menjadi penyangga utama organisasi,” jelasnya.
Lebih lanjut, Gus Faris berharap kepemimpinan PBNU mendatang mampu memperkuat peran NU dalam pembangunan umat melalui peningkatan kualitas pendidikan pesantren yang selama ini menjadi landasan perjuangan organisasi.
Menurutnya, pesantren harus terus diperkuat sebagai pusat pendidikan, kaderisasi ulama, pengembangan karakter, serta pemberdayaan masyarakat sehingga mampu melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Di bidang kebangsaan, Gus Faris juga menekankan pentingnya membangun komunikasi politik yang sehat dengan seluruh elemen bangsa. Ia berpandangan bahwa sebagai organisasi kemasyarakatan keagamaan, NU harus mampu menjalin hubungan yang baik dengan seluruh kekuatan politik tanpa kehilangan independensinya.
“NU harus mampu membangun komunikasi politik dengan semua pihak. Yang tidak boleh adalah menjadikan NU sebagai partai politik. Namun dinamika politik bangsa tidak boleh diabaikan, karena NU mempunyai tanggung jawab moral terhadap perjalanan bangsa Indonesia,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa hubungan yang setara dengan seluruh kekuatan politik akan memperkuat posisi NU sebagai organisasi yang mampu mengayomi seluruh warga nahdliyin tanpa memandang afiliasi politik.
Menyoroti kondisi organisasi saat ini, Gus Faris menyampaikan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola kepemimpinan PBNU. Menurutnya, Muktamar ke-35 harus menjadi momentum melakukan pembaruan agar organisasi mampu menjawab tantangan yang semakin kompleks.
“Muktamar harus menjadi momentum reformasi kepemimpinan. Organisasi sebesar NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu menyatukan seluruh elemen, memperkuat komunikasi, memperbaiki tata kelola, serta menghadirkan solusi bagi umat, bangsa, dan negara,” katanya.
Ia berharap kepemimpinan baru kelak mampu mengembalikan semangat persatuan, memperkuat peran pesantren, menjaga tradisi keilmuan para ulama, sekaligus membawa NU semakin adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi jati diri organisasi.
Serial Diskusi Muktamar Ke-35 NU ini menjadi ruang pertukaran gagasan bagi para tokoh, akademisi, ulama, dan masyarakat untuk merumuskan format kepemimpinan ideal Nahdlatul Ulama di masa depan. Berbagai pandangan yang disampaikan diharapkan dapat menjadi masukan konstruktif menjelang Muktamar, sehingga NU semakin kokoh sebagai organisasi keagamaan yang berperan besar dalam menjaga persatuan bangsa, memperkuat kehidupan demokrasi, serta mewujudkan kemajuan umat dan Indonesia.
Jika diinginkan, saya juga dapat menyusun versi yang lebih bernuansa straight news atau feature dengan menampilkan porsi yang lebih seimbang dari penayangan seluruh narasumber.






