Sebanyak 115 anak dan remaja dari 20 kecamatan berkumpul di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan, membawa kemampuan terbaik mereka dalam Festival Anak Shaleh Indonesia (FASI) 2026.
Namun, FASI perdana di Bumi Sebiduk Sehaluan itu tidak sekadar menjadi panggung perlombaan keagamaan. Di tengah anak-anak yang tampil dengan kemampuan masing-masing, Bupati OKU Timur Ir. H. Lanosin, M.T., M.M., atau Enos, menunjukkan gaya kepemimpinan yang menempatkan pembinaan generasi muda sebagai bagian penting dari pembangunan daerah.
FASI tingkat Kabupaten OKU Timur resmi dibuka Enos di Balai Rakyat Setda OKU Timur, Rabu (19/8/2026). Kegiatan berlangsung selama dua hari, 19–20 Agustus 2026, dengan peserta utusan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA/TPQ) dari seluruh kecamatan.
Bagi Enos, anak-anak yang hadir bukan sekadar peserta lomba. Mereka adalah bagian dari wajah masa depan OKU Timur.
“Anak-anak harus tahu, bahwa anak sholeh itu bagaikan cahaya yang menyinari alam semesta. Alhamdulillah, syukur hari ini cahaya itu datang dari 20 kecamatan ke Bumi Sebiduk Sehaluan untuk menunjukkan kehebatannya masing-masing,” ujar Enos.
Pernyataan itu menggambarkan perhatian Enos terhadap pembinaan generasi sejak usia dini. Ia menilai pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga harus disertai pembangunan manusia yang memiliki karakter dan akhlak.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten OKU Timur menyatakan dukungan terhadap program Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), terutama dalam memperkuat pembinaan anak-anak melalui TPA dan TPQ.
BUKAN SEKADAR MENCARI JUARA
Enos mengingatkan bahwa FASI tidak boleh dimaknai semata-mata sebagai kompetisi untuk menentukan siapa yang paling unggul.
Menurut dia, jauh lebih penting menemukan anak-anak yang mampu menjadi teladan bagi lingkungan dan teman-teman seusianya.
“FASI ini bukan hanya mencari yang terhebat, tetapi mencari yang terbaik untuk menjadi teladan bagi anak-anak OKU Timur,” katanya.
Pesan tersebut sekaligus memperlihatkan pendekatan kepemimpinan Enos yang menempatkan prestasi dan keteladanan sebagai dua hal yang berjalan beriringan.
Di hadapan Ketua DPD BKPRMI Provinsi Sumatera Selatan Ustaz Firdaus, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten OKU Timur H. Abdul Kadir, S.Pd., M.P.Kim., para peserta dan orang tua, Enos menegaskan bahwa OKU Timur memiliki sumber daya manusia yang besar.
Potensi itu, menurut dia, harus dirawat melalui pembinaan yang konsisten dan berkelanjutan.
“Anak-anak harus terus belajar, mengembangkan kemampuan dan menjaga semangat berprestasi,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
PEMIMPIN YANG TURUN MENYAPA
Kehadiran kepala daerah dalam kegiatan yang bersentuhan langsung dengan anak-anak dan keluarga masyarakat juga menjadi bagian dari wajah kepemimpinan yang ingin dibangun di OKU Timur.
FASI mempertemukan pemerintah, BKPRMI, ustaz dan ustazah, orang tua serta anak-anak dari berbagai kecamatan dalam satu ruang yang sama.
Bagi Enos, ruang seperti itu penting. Sebab pembangunan daerah pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai program dan anggaran, tetapi juga tentang bagaimana pemerintah hadir di tengah masyarakat dan memberi ruang bagi generasi muda untuk berkembang.
Kepemimpinan yang kuat, dalam konteks tersebut, tidak hanya ditunjukkan melalui kebijakan, tetapi juga melalui keberpihakan terhadap pembinaan manusia.
Dukungan terhadap TPA dan TPQ menjadi salah satu bentuk perhatian terhadap basis pendidikan keagamaan yang tumbuh di tengah masyarakat.
DARI MASJID MENUJU MASA DEPAN
Ketua DPD BKPRMI OKU Timur Imam Safei, S.Hi., mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten OKU Timur, khususnya Bupati Enos dan Ketua TP PKK OKU Timur dr. Sheila Noberta, Sp.A., M.Kes.
Menurut Imam, FASI menjadi ruang untuk menggali potensi, bakat dan minat anak-anak serta remaja dalam bidang keagamaan.
FASI juga diharapkan memperkuat pembinaan karakter dan melahirkan generasi Qurani yang cerdas, berkarakter, berakhlak mulia, mencintai Al-Qur’an dan mampu mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.
Pada FASI 2026, sejumlah cabang perlombaan digelar. Lomba Kisah Islami berlangsung di Balai Rakyat, Dai Cilik di Ruang Binapraja 1, Peragaan Sholat di Masjid Sabilul Huda, Azan di Masjid Sabilul Mutaqin, serta Tahfizh Juz Amma di Aula Bapperida.
Sebanyak 115 peserta dari 20 kecamatan pun tidak hanya membawa target menjadi juara. Mereka membawa cerita tentang bagaimana pendidikan agama tumbuh dari masjid, TPA dan TPQ di wilayah masing-masing.
FASI perdana ini menjadi penanda bahwa pembangunan manusia di OKU Timur sedang diarahkan sejak dari akar.
Dari anak-anak yang belajar membaca Al-Qur’an, menghafal ayat, berlatih azan dan tampil sebagai dai cilik, pemerintah berharap tumbuh generasi yang mampu menjadi kekuatan moral daerah.
Bagi Enos, anak-anak tersebut bukan hanya peserta festival hari ini. Mereka adalah calon pemimpin OKU Timur di masa depan.
Dan dari sinilah kepemimpinan diuji: seberapa jauh seorang pemimpin mampu melihat masa depan melalui anak-anak yang hari ini berdiri di hadapannya.
FASI perdana OKU Timur akhirnya bukan sekadar tentang siapa yang membawa pulang piala. Ia menjadi cerita tentang pemerintah yang hadir, masyarakat yang bergerak, dan anak-anak yang sedang dipersiapkan untuk meneruskan masa depan Bumi Sebiduk Sehaluan.
Ind16







