Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates

Iklan

Bambang Patijaya: Aktivis Jangan Berhenti pada Penolakan, Ubah Perbedaan Menjadi Gagasan Baru

Growmedia
Sabtu, 19 September 2026
Last Updated 2026-09-19T14:41:29Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
CEK SEMUA LAYANAN KAMI DISINI

Pangkalpinang,Growmedia,indo,com—
Menjadi aktivis mahasiswa tidak cukup hanya dengan berdiri di seberang kebijakan lalu menyatakan penolakan. Perbedaan pendapat mestinya menjadi pintu masuk untuk menguji gagasan, membaca data, dan mencari rumusan yang lebih baik, bukan berhenti pada sikap menolak.

Pesan mendalam itu disampaikan Bambang Patijaya, Legislator DPR RI asal Dapil Bangka Belitung, dalam diskusi yang digelar Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas Bangka Belitung (UBB), Sabtu (19/9/2026). Di hadapan mahasiswa berbagai jurusan, perwakilan dekanat, dan pengurus organisasi kemahasiswaan, ia menekankan pentingnya membangun landasan berpikir yang kokoh sebelum melangkah lebih jauh.

"Pertama yang ingin saya gugah adalah landasan berpikir mahasiswa. Sebelum melakukan hal-hal besar, mahasiswa harus mempunyai landasan pola pikir terlebih dahulu," ujar Bambang.

Ia kemudian meminjam dialektika Hegel untuk menjelaskan proses berpikir yang seharusnya terjadi: ada tesis, ada antitesis, lalu lahir sintesis. Dalam kehidupan sosial dan politik, suatu kebijakan dapat dipandang sebagai tesis. Perbedaan pandangan yang menyanggahnya menjadi antitesis. Dari benturan keduanya, diharapkan lahir sintesis — gagasan baru yang lebih matang.

Namun kenyataannya, banyak aktivis yang merasa cukup setelah memosisikan diri sebagai penentang. "Para aktivis yang saklek menyatakan dirinya antitesis terhadap apa yang sedang berjalan. Mereka berhenti kepada antitesis," tegasnya.

Menjadi pihak yang berbeda memang lebih mudah terlihat. Namun perbedaan itu harus tetap memiliki dasar rasional. "Paling gampang itu memposisikan diri sebagai antitesis karena terlihat Anda berbeda. Tetapi ingat, saklek itu didasari dengan rasionalitas," tambahnya.

Oleh karena itu, perbedaan pendapat semestinya tidak berakhir sebagai penolakan. Benturan gagasan harus dibawa ke dalam komunikasi dua arah untuk saling menguji dasar pemikiran. Di situlah dialektika bekerja — mencari dan menguji rasionalitas bersama.

Bambang juga mengingatkan mahasiswa yang kelak terlibat dalam penyusunan regulasi agar tidak hanya mengandalkan keberanian berpendapat. Legislator, termasuk legislator muda di kampus, harus memahami data dan mampu menganalisis informasi sebelum merumuskan ketentuan.

"Tidak mungkin saya bisa membahas, menganalisis sebuah kalimat di dalam pasal-pasal kalau saya tidak didasari dengan rasionalitas, dengan data, dengan dukungan informasi," ujarnya.

Kualitas keputusan tidak lahir hanya dari keberanian mengambil sikap. Ada sejumlah modal yang perlu dimiliki: jaringan untuk membuka ruang komunikasi, pengetahuan untuk menguji gagasan, serta komitmen dan daya fisik agar gagasan tidak berhenti di ruang diskusi.

"Di dalam menghasilkan keputusan yang baik diperlukan, pertama, jaringan yang baik; kedua, pengetahuan yang baik dengan rasionalitas. Lalu ditambah lagi harus punya komitmen dan daya fisik yang bagus," jelasnya.

Dengan begitu, aktivisme mahasiswa tidak semata-mata diukur dari seberapa keras suara penolakan terdengar. Ukurannya juga terletak pada kemampuan mengubah perbedaan menjadi perdebatan yang rasional dan, pada akhirnya, melahirkan gagasan baru yang lebih bermanfaat.

 

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Tidak ada komentar:

Iklan