Pontianak,Growmedia-indo.com– Harga bawang merah di sejumlah pasar tradisional di Kota Pontianak masih bertahan tinggi dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Kondisi ini memicu keresahan masyarakat, terutama kalangan ibu rumah tangga dan pedagang kecil, karena beban kebutuhan pokok terus meningkat.
Pantauan di beberapa lapak pasar tradisional, Minggu (15/2/2026), harga bawang merah masih berkisar Rp 100.000 per kilogram. Angka tersebut dinilai tidak wajar dan jauh di atas harga normal yang biasanya berada di kisaran Rp 35.000 hingga Rp 50.000 per kilogram.
Seorang pedagang di kawasan Pasar Flamboyan mengaku harga tinggi sudah berlangsung cukup lama. “Sudah hampir dua minggu lebih begini. Kami juga ambil dari distributor sudah mahal. Mau tidak mau dijual segitu,” ujarnya saat ditemui di lapaknya.
Lonjakan harga bawang ini berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Siti (43), seorang ibu rumah tangga di Pontianak Barat, mengaku terpaksa mengurangi pembelian bawang dan kebutuhan dapur lainnya. “Biasanya beli satu kilo untuk stok seminggu, sekarang paling setengah kilo. Serba mahal, bukan bawang saja,” keluhnya.
Tidak hanya bawang merah, beberapa kebutuhan pokok lain seperti cabai dan telur juga mengalami kenaikan, meski tidak setinggi bawang. Kondisi ini semakin menekan ekonomi warga menjelang meningkatnya kebutuhan harian.
Sejumlah warga mempertanyakan langkah konkret Aparat Penegak Hukum (APH) dan instansi terkait dalam mengendalikan harga serta mengawasi distribusi. Mereka menilai belum terlihat adanya tindakan tegas terhadap dugaan permainan harga atau penimbunan barang.
“Kalau memang stok kurang, harus dijelaskan. Tapi kalau ada permainan, harus ditindak. Jangan masyarakat terus yang jadi korban,” tegas seorang pembeli yang enggan disebutkan namanya.
Pengamat ekonomi lokal menilai pemerintah daerah bersama instansi terkait seharusnya segera melakukan operasi pasar dan inspeksi mendadak (sidak) ke distributor besar. “Transparansi rantai distribusi penting. Pemerintah harus memastikan tidak ada praktik spekulasi atau penahanan stok,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait mengenai langkah konkret untuk menstabilkan harga bawang di Pontianak. Masyarakat berharap pemerintah dan APH tidak hanya melakukan pemantauan, tetapi juga mengambil tindakan nyata demi menjaga stabilitas harga dan daya beli warga.
Jika kondisi ini terus berlarut, bukan tidak mungkin dampaknya akan semakin luas terhadap stabilitas ekonomi rumah tangga masyarakat Kota Pontianak./Kzn




