DRACO dan Langkah Awal Menuju Propulsi Nuklir Cislunar

Opini:Penulis:Rindiani Aprillia Cauntesa, S.Si., Alumnus FMIPA Universitas Lampung

Bangka Belitung,Growmedia,indo,com- Ambisi eksplorasi Bulan kembali mengemuka setelah lima dekade, menjadikan wilayah cislunar—ruang antara Bumi dan Bulan—sebagai arena strategis politik-ekonomi antariksa. Amerika Serikat, Tiongkok, dan Eropa berlomba menguasai orbit tinggi serta jalur logistik Bulan. Namun, tantangan utama muncul: bagaimana bergerak efisien di ruang luas itu ketika roket kimia konvensional, dengan specific impulse sekitar 450 detik, mencapai batasnya?

Program Demonstration Rocket for Agile Cislunar Operations (DRACO), digagas DARPA dan NASA sejak 2023, menawarkan jawaban melalui Nuclear Thermal Propulsion (NTP). Teknologi ini memanfaatkan energi fisi nuklir untuk memanaskan hidrogen cair menjadi gas superpanas, menghasilkan dorongan lebih kuat dan efisien. Jika berhasil, NTP bisa memangkas waktu perjalanan ke Mars hingga separuh, sekaligus memungkinkan manuver lincah di cislunar yang sulit dicapai panel surya atau baterai konvensional.

Perkembangan Teknis dan TantanganLockheed Martin memimpin pengembangan wahana, sementara BWX Technologies menggarap reaktor mini berbahan bakar High-Assay Low-Enriched Uranium (HALEU) yang lebih aman. Target peluncuran demonstrasi awal 2027 dari Kennedy Space Center, dengan orbit uji 700-2.000 km, sempat diragukan publik usai dokumen lingkungan dirilis.

Uji coba prototipe mengesankan: nozzle skala 60% tahan suhu 2.700 Kelvin selama 20 penyalaan, pompa hidrogen ekstrem berfungsi optimal, dan control drums reaktor menunjukkan stabilitas reaksi fisi. Namun, awal 2025 membawa evaluasi ulang akibat persyaratan keamanan nuklir dan antariksa. Laporan internal menyebut jadwal "on hold", dengan potensi penyimpanan aset di fasilitas NASA untuk proyek lanjutan—bukan pembatalan total.

Persaingan Global Propulsi NuklirPendekatan Barat via NTP kontras dengan alternatif lain. ESA mengembangkan RocketRoll berbasis Nuclear Electric Propulsion (NEP), sementara Rusia melalui Roscosmos membangun "space tug" Zeus dengan reaktor 500 kW untuk dorongan ion plasma, menargetkan misi Jupiter 2030. NASA memproyeksikan NTP krusial untuk misi berawak Mars 2030-an.

DRACO, meski menghadapi hambatan, membuktikan NTP bukan lagi fiksi. Fondasinya dari rekayasa material hingga kontrol reaktor membuka era transportasi antarplanet lebih cepat dan berkelanjutan. Keberhasilan atau penyesuaian jadwalnya akan menentukan siapa menguasai cislunar, sekaligus menguji keseimbangan antara inovasi dan keselamatan.

Eksplorasi antariksa selalu bergantung pada keberanian mengatasi batas fisik. DRACO menjadi pengingat: nuklir bisa menjadi kunci menjelajahi tata surya, asal didukung regulasi ketat dan kolaborasi global. (Penulis:Rindiani Aprillia Cauntesa, S.Si., Alumnus FMIPA Universitas Lampung)

Ayo! Baca Juga
Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler

Iklan


Iklan



نموذج الاتصال