Seribu Bibit Mangrove: Aksi Nyata Bem KM UBB Perkuat Pesisir dan Ekonomi Bangka Tengah

Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung (BEM KM FISIP UBB) menggelar aksi nyata restorasi mangrove di kawasan pesisir Pantai Tapak Antu, Desa Batu Belubang, Kabupaten Bangka Tengah

Bangka Belitung, Growmedia,indo,com-
Bangka Tengah – Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung (BEM KM FISIP UBB) menggelar aksi nyata restorasi mangrove di kawasan pesisir Pantai Tapak Antu, Desa Batu Belubang, Kabupaten Bangka Tengah, Sabtu (27/6/2026) pagi.

Aksi penanaman 1.000 bibit mangrove ini merupakan bagian dari program kerja Bina Desa BEM KM FISIP UBB. Gerakan kolaboratif ini diinisiasi sebagai langkah strategis untuk menyelaraskan dua agenda besar, yaitu memperkuat ketahanan pesisir dari ancaman abrasi sekaligus mendongkrak perekonomian lokal masyarakat setempat.


Kegiatan dimulai tepat pukul 08.00 WIB dengan sesi penyuluhan edukatif dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Batu Rusa Cerucuk. Pihak BPDAS Batu Rusa Cerucuk memberikan pembebekalan mengenai teknik penanaman mangrove yang tepat serta pentingnya menjaga kelestarian ekosistem pesisir bagi keberlanjutan biota laut. Usai pembebekalan, pada pukul 09.00 WIB, puluhan mahasiswa bersama warga desa langsung turun ke area lumpur Pantai Tapak Hantu untuk menanam bibit secara simultan. Aksi “All-Out” di lapangan ini merupakan bentuk tanggung jawab sosial mahasiswa selaku agent of change.

Mahasiswa tidak hanya dituntut aktif di ruang kelas, tetapi juga harus hadir memberikan solusi nyata atas isu-isu krusial yang dihadapi masyarakat pesisir Pulau Bangka saat ini.

Secara ekologis, penanaman 1.000 mangrove di Pantai Tapak Hantu diproyeksikan menjadi infrastruktur hijau alami (green infrastructure). Akar mangrove yang kokoh nantinya akan berfungsi sebagai pemecah gelombang, penahan sedimen, serta pelindung garis pantai dari pengikisan akibat perubahan iklim.

Selain menjadi benteng alam, restorasi ini memiliki dampak ekonomi jangka panjang yang signifikan. Ekosistem mangrove yang lestari akan menjadi habitat alami bagi komoditas bernilai jual tinggi seperti kepiting bakau, udang, dan ikan pesisir, yang menjadi tumpuan hidup mayoritas nelayan di Desa Batu Belubang. Ke depan, kawasan yang tertata ini juga berpotensi dikembangkan menjadi zonasi ekowisata berbasis masyarakat (community-based ecotourism).

Penanggung Jawab Restorasi Mangrove, Ice Risnawati, menegaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar agenda seremonial menanam pohon lalu ditinggalkan. Menurutnya, ada tanggungjawab keberlanjutan yang dibawa oleh mahasiswa dalam program Bina Desa ini.

“Seribu bibit mangrove yang akan kita tanam hari ini di Pantai Tapak Antu adalah investasi masa depan. Secara ekologis ini adalah ikhtiar untuk membangun infrastruktur hijau yang akan menjadi benteng alami pesisir dari ancaman abrasi,” ujar Ice Risnawati.

Ice juga menambahkan bahwa kelestarian mangrove berkaitan erat dengan isi dompet masyarakat sekitar. Hubungan antara lingkungan dan ekonomi harus berjalan beriringan agar program ini berdampak jangka panjang.

“Kami ingin menyelaraskan antara ketahanan ekologi dan ekonomi. Ketika ekosistem mangrove ini pulih dan lestari, ia akan menjadi rumah bagi komoditas bernilai tinggi seperti kepiting bakau, udang, dan ikan. Hal ini tentu menjadi angin segar bagi keberlanjutan mata pencaharian nelayan di Desa Batu Belubang. Ke depan, wilayah ini juga punya potensi besar untuk dikembangkan menjadi ekowisata berbasis komunitas,” jelas Ice Risnawati.

Melalui sinergi mahasiswa dan warga desa dalam program Bina Desa ini, BEM KM FISIP UBB berharap gerakan ini dapat memantik kepedulian aktor-aktor lain, termasuk sektor swasta dan pemerintah daerah, untuk terus mengawal komitmen hijau demi pesisir Bangka yang tangguh dan sejahtera.pungkasnya

Ayo! Baca Juga
Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler

Iklan


Iklan



نموذج الاتصال