Skrining Sistematis Tuberkulosis (SSTB) Dinas Kesehatan Dan Pemdes Banjarwinangunan Perkuat Deteksi Dini Penyakit TBC
GrowMedia, Kabupaten Cirebon – Upaya percepatan eliminasi penyakit Tuberkulosis (TBC) terus digalakkan oleh Pemerintah Kabupaten Cirebon melalui Dinas Kesehatan. Salah satu langkah nyata dilakukan dengan menyelenggarakan kegiatan Skrining Sistematis Tuberkulosis (SSTB) yang dipusatkan di Kantor Pemerintah Desa Banjarwinangunan, Kecamatan Mundu, pada hari Senin, 25 Mei 2026. Program ini menghadirkan layanan deteksi dini penyakit melalui pemeriksaan sinar X atau Rontgen, serta pemeriksaan kesehatan umum lainnya yang sepenuhnya digratiskan bagi warga setempat.
Kepala Desa (Mama Kuwu) Banjarwinangunan, H. Sulaeman, dalam keterangannya menyampaikan rasa syukur dan apresiasi yang mendalam atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menjelaskan, antusiasme masyarakat sangat tinggi terlihat dari hadirnya sekitar 160 warga, dan sebanyak 150 di antaranya bersedia mengikuti serangkaian pemeriksaan lengkap, mulai dari pemeriksaan fisik hingga Rontgen paru-paru secara gratis.
“Program yang diinisiasi oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon ini sangat luar biasa dan sangat membantu masyarakat kami. Warga sangat antusias datang berbondong-bondong untuk memeriksakan kesehatannya. Atas nama seluruh warga Desa Banjarwinangunan, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon yang telah peduli dan menyediakan fasilitas pemeriksaan serta Rontgen gratis hingga ke desa-desa,” ungkap H. Sulaeman.
Lebih lanjut ia menuturkan, keberadaan program ini memberikan pemahaman baru bagi masyarakat. Kini warga semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan dan rutin melakukan pengecekan dini, bukan hanya saat sakit saja. Ia pun berharap kegiatan yang bermanfaat ini dapat berlanjut dan dilaksanakan secara rutin, sehingga potensi penyebaran maupun risiko penyakit TBC dan gangguan kesehatan lainnya dapat dicegah sejak dini.
Pemerintah Desa Banjarwinangunan juga mengapresiasi sistem pelayanan kesehatan yang kini semakin merata. Hampir seluruh Puskesmas yang ada di wilayah Kabupaten Cirebon saat ini telah melayani skrining hingga pengobatan TBC secara cuma-cuma. Khusus di wilayah Kecamatan Mundu, pelayanan difasilitasi langsung oleh pihak kecamatan dan Puskesmas setempat. Tidak hanya itu, layanan kesehatan keliling pun sering digelar di tempat-tempat strategis seperti Balai Desa, kantor kelurahan, hingga gedung olahraga desa, dengan memanfaatkan mobil Rontgen keliling guna memudahkan akses masyarakat yang sulit menjangkau fasilitas kesehatan di kabupaten cirebon.
“Pemeriksaan kesehatan sering kali kami adakan di balai desa atau area publik lainnya, menggunakan mobil Rontgen keliling. Ini bertujuan agar masyarakat semakin mudah mendapatkan akses layanan kesehatan berkualitas tanpa harus jauh-jauh ke rumah sakit besar,” tambah H. Sulaeman.
Sementara itu, Ibu Kiki, selaku tim pelaksana kegiatan Skrining Sistematis Tuberkulosis (SSTB), menyampaikan rincian data hasil pemeriksaan yang telah dilakukan. Dari total sekitar 150 warga yang terdaftar dan diperiksa, ditemukan sebanyak 7 orang memiliki hasil Rontgen yang menunjukkan indikasi positif gangguan kesehatan berpotensi TBC. Rinciannya terdiri dari 6 orang dewasa dan 1 orang anak-anak. Selain itu, terdapat pula 2 warga yang menjalani pemeriksaan darah, serta 3 warga lainnya yang saat ini sedang menjalani program pencegahan infeksi TBC dengan pengobatan rutin selama 3 bulan ke depan.
Menurut Ibu Kiki, kegiatan pemeriksaan kesehatan seperti ini akan terus dijadwalkan secara berkesinambungan. Rencananya, pada tanggal 25 Juni 2026 mendatang, giliran Desa Setu Patok yang akan menjadi lokasi sasaran skrining berikutnya. Mengingat wilayah Desa Setu Patok cukup luas dan jumlah penduduk yang padat, target peserta diperkirakan akan jauh lebih banyak dibandingkan kegiatan kali ini.
“Kami menargetkan cakupan pemeriksaan yang lebih luas di Desa Setu Patok. Pasalnya, di wilayah tersebut tantangan kesehatan masyarakat cukup beragam, mulai dari kasus gizi buruk hingga stunting. Stunting sendiri merupakan kondisi gangguan pertumbuhan fisik di mana tinggi badan anak jauh lebih pendek dibandingkan standar usianya, yang terjadi akibat kekurangan gizi dalam jangka panjang, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan seorang anak,” jelas Ibu Kiki.
Selain masalah gizi, data kesehatan juga mencatat adanya peningkatan kasus gangguan paru-paru di wilayah tersebut, seperti bursitis dan bronkopneumonia. Bronkopneumonia sendiri merupakan jenis infeksi paru-paru yang menyebabkan peradangan serius pada saluran pernapasan utama (bronkus) dan kantung udara kecil (alveoli). Penyakit ini umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, maupun jamur, dan diketahui sangat rentan menyerang anak-anak.
Gejala yang biasanya muncul pada penderita antara lain demam tinggi atau menggigil hebat, batuk-batuk baik berdahak maupun kering, kesulitan bernapas atau sesak napas, frekuensi napas yang sangat cepat, hingga terlihat adanya tarikan dinding dada ke dalam saat anak bernapas yang menandakan kesulitan mengambil napas.
Oleh karena itu, tim kesehatan menekankan pentingnya langkah pencegahan yang harus dilakukan oleh setiap keluarga. Pencegahan dapat dimulai dengan melengkapi imunisasi dasar dan lanjutan, salah satunya vaksin PCV untuk mencegah infeksi paru. Selain itu, penerapan kebiasaan hidup bersih seperti rajin mencuci tangan pakai sabun, serta menjauhkan anak-anak dari paparan asap rokok dan polusi udara lingkungan, dinilai sangat efektif untuk menurunkan risiko penularan maupun keparahan penyakit pernapasan dan TBC di kalangan masyarakat.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan angka kesadaran kesehatan terus meningkat dan Kabupaten Cirebon semakin cepat mencapai target bebas Tuberkulosis serta memiliki masyarakat yang lebih sehat dan sejahtera. (Nurhadi).




