Jumat Keramat di Keluang: Luka Seorang Ibu, Mandeknya Hukum, dan Diamnya Aparat



Www.Growmedia.indo.com.

Tanggal 17 April 2026 akan menjadi hari yang tak biasa di Kecamatan Keluang. Warga bersiap menyaksikan sebuah aksi yang bukan sekadar demonstrasi biasa—ini adalah jeritan panjang dari seorang ibu yang kehilangan anaknya dalam kasus pembunuhan di Hindoli, kasus yang hingga kini belum juga menemukan titik terang.

Sudah berbulan-bulan berlalu, namun keadilan seolah tersesat tanpa arah. Pelaku belum terungkap, motif belum jelas, dan proses hukum berjalan di tempat. Sementara itu, duka sang ibu tidak pernah berhenti berdetak—justru semakin nyaring menuntut jawaban.

Aksi yang dijuluki “Jumat Keramat” ini akan digelar di depan mapolsek Keluang. Nama itu bukan tanpa makna. “Keramat” mencerminkan harapan sekaligus tekanan—bahwa hari itu harus menjadi titik balik. Bahwa ada sesuatu yang akhirnya bergerak. Bahwa diamnya aparat tidak lagi bisa ditoleransi.

Publik mulai bertanya: ada apa sebenarnya di balik lambannya penanganan kasus ini? Apakah ini murni ketidakmampuan, atau ada sesuatu yang sengaja ditutup-tutupi? Di tengah masyarakat yang semakin kritis, kinerja aparat penegak hukum keluang tak lagi bisa berlindung di balik alasan klasik “masih dalam penyelidikan.”

Gerakan aksi ini juga akan melibatkan seorang ibu yang terus merintih tentang kepastian hukum anaknya. 

Mereka melihat sebuah pola yang terlalu sering terjadi: kasus besar, korban dari rakyat biasa, lalu perlahan menghilang dari perhatian tanpa penyelesaian. Seolah nyawa manusia bisa dinegosiasikan oleh waktu.

Yang paling menyayat adalah kehadiran sang ibu dalam aksi tersebut. Ia bukan aktivis, bukan tokoh politik. Ia hanya seorang ibu yang anaknya direnggut secara brutal—dan negara, yang seharusnya melindungi, justru belum mampu memberikan keadilan. Tangisnya bukan lagi sekadar kesedihan pribadi, tetapi telah menjadi simbol kegagalan sistem.

Jika pada 17 April nanti aparat masih bungkam, maka yang dipertaruhkan bukan hanya satu kasus pembunuhan. Ini soal kepercayaan publik. Soal legitimasi hukum. Soal apakah masyarakat masih bisa berharap pada institusi yang seharusnya menjadi benteng terakhir keadilan.

“Jumat Keramat” bisa menjadi awal dari perubahan—atau justru penegasan bahwa hukum di negeri ini masih tajam ke bawah, tumpul ke atas, dan sering kali lumpuh di tengah.

Dengan nada geram ketua gempita Muba Mauzan angkat bicara"Copot Kapolsek keluang"kerena di nilai tidak bisa menjaga marwah dari institusi yg sangat di banggakan masyarakat ini,berbagai macam kasus kebakaran ileggal drilling danl rifenery  bak hilang di telan bumi

Tgl.18 February 2026

Tgl.09 maret 2026

Tgl.14 Maret 2026

Satu hal yang pasti: suara seorang ibu yang kehilangan anaknya tidak akan mudah dibungkam. Dan kali ini, ia tidak datang sendirian.(Tim) 

Ayo! Baca Juga
Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler

Iklan


Iklan



نموذج الاتصال