Hadiri Diskusi Publik MBG, Dr. Agus Febrianto: Program Presiden Prabowo Langsung Menyentuh Rakyat
Jakarta, – Isu gizi anak kembali menjadi perhatian utama dalam Diskusi Publik MBG (Makan Bergizi) bertajuk “Outlook Masa Depan Gizi Anak Indonesia” yang digelar Menara Kadin Indonesia, Jakarta, pada hari Rabu (14/01/2026). Forum ini menghadirkan pembicara Dr. Ir Dadan Hindayana Kepala Gizi Nasional RI, Anindya Bakrie Ketua Umum Kadin Indonesia, Nurhadi, S.Pd., MH, Anggota Komisi IX DPR RI, H. Alven Stony Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makan Bergizi Indonesia (GAPEMBI), Dr.dr. Andreasta Meliala, M.Kes, Kepala Biro Pelayanan Kesehatan Terpadu UGM, praktisi, praktisi kesehatan, pembuat kebijakan, serta perwakilan masyarakat sipil guna menyusun langkah-langkah nyata dalam memperkuat kualitas gizi generasi penerus bangsa.
Pembahasan ini menegaskan bahwa persoalan gizi anak bukan sekedar persoalan kesehatan, tetapi juga menyangkut masa depan daya saing bangsa. Data dan kajian yang dipaparkan menunjukkan bahwa perbaikan gizi sejak usia dini memiliki korelasi langsung terhadap kualitas sumber daya manusia, produktivitas nasional, serta stabilitas sosial jangka panjang.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai sebagai salah satu invasi strategi pemerintah dalam menjawab permasalahan gizi anak Indonesia secara menyeluruh dan berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Agus Febrianto, Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Vokasi dan Sertifikasi Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kalimantan Selatan, usai menghadiri Diskusi Publik “MBG Outlook: Masa Depan Gizi Anak Indonesia” di Menara KADIN Indonesia.
Menurut Dr. Agus, program MBG merupakan wujud nyata keberpihakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terhadap kebutuhan dasar masyarakat, terutama anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.
"MBG ini bukan sekadar program makan gratis. Ini adalah investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Program Presiden Prabowo ini langsung menyentuh rakyat dan menjawab persoalan mendasar: gizi anak Indonesia," tegasnya.
Ia menilai MBG membawa harapan besar bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia, karena perbaikan gizi anak merupakan fondasi utama dalam membangun generasi yang sehat, cerdas, dan produktif.
Dr. Agus juga menekankan pentingnya sosialisasi yang masif dan berkelanjutan agar seluruh lapisan masyarakat, termasuk dunia usaha, memahami peran strategis mereka dalam menyukseskan program tersebut.
“Kita semua harus terlibat. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dunia usaha, organisasi, dan masyarakat memiliki peran penting dalam memastikan program ini berjalan optimal,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia berharap program MBG tidak hanya berhenti pada tataran administratif, namun benar-benar memberi dampak luas dan berkelanjutan bagi masyarakat serta membuka ruang kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan sektor swasta.
“Pengusaha harus memiliki kepedulian tinggi terhadap program strategis nasional seperti MBG. Ini bukan hanya soal bisnis, tapi tanggung jawab sosial terhadap masa depan bangsa,” kata Dr. Agus.
Terkait implementasi di daerah, khususnya di wilayah Kalimantan dan kawasan 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), Dr. Agus mengakui adanya tantangan tersendiri. Namun ia menegaskan bahwa tantangan tersebut justru menjadi panggilan moral untuk berkontribusi lebih besar.
“Di wilayah 3T memang tidak mudah, tetapi justru di situlah nilai pengabdian kita. Program MBG adalah upaya nyata agar anak-anak di pelosok negeri mendapatkan hak yang sama atas gizi yang layak,” jelasnya.
Sebagai Wakil Ketua Umum KADIN Kalimantan Selatan di bidang vokasi dan sertifikasi, Dr. Agus menegaskan bahwa sinergi antara penyediaan gizi dan peningkatan kualitas SDM merupakan kunci untuk mewujudkan Indonesia yang unggul dan berdaya saing di masa depan.
“Jika gizi anak terpenuhi dan kualitas SDM ditingkatkan, maka Indonesia akan memiliki fondasi yang kuat menuju Indonesia Emas,” tutupnya.





