Anna Suri Ariani, S.PSI, M.Si Komisi Keluarga KWI Narasumber Seminar Natal Nasional 2025 Seminar Natal Nasional: Keluarga Bertahan di Tengah Tantangan Kota Metropolitan

 Anna Suri Ariani, S.PSI, M.Si Komisi Keluarga KWI Narasumber Seminar Natal Nasional 2025 Seminar Natal Nasional: Keluarga Bertahan di Tengah Tantangan Kota Metropolitan



Jakarta, 3 Januari 2026 — Panitia Natal Nasional 2025 secara resmi membuka rangkaian Seminar Natal Nasional yang diadakan di sembilan kota di Indonesia. Mengusung tema besar Natal Nasional 2025,

“Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” (Matius 1:21–24), kegiatan ini bertujuan meneguhkan kembali peran keluarga sebagai fondasi utama pembentukan karakter, iman, dan ketahanan sosial bangsa di tengah kompleksitas kehidupan kota metropolitan.


Seminar ini merupakan bagian dari agenda strategis Natal Nasional 2025, selain berbagai program sosial seperti bakti sosial, bantuan bencana, beasiswa pendidikan, rintisan gereja, serta bantuan ambulans yang telah menjangkau lebih dari 10 wilayah di Indonesia. Melalui kolaborasi dengan lembaga keagamaan, universitas, organisasi kepemudaan, dan pemerintah daerah, seminar ini diharapkan mampu memetakan secara nyata tantangan-tantangan keluarga Indonesia serta menghadirkan solusi kontekstual dan berkelanjutan.


*Narasumber Nasional Lintas Iman*


Sesi talkshow menghadirkan para tokoh nasional lintas iman dan disiplin ilmu, yaitu:


*Pdt. (HC) Jacklevyn Frits Manuputty, M.Th – Ketua Umum PGI

*Pdt. Jason Joram Balompapuaeng – Ketua Pelaksana Harian Panitia Natal Nasional

* Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si – Komisi Keluarga KWI

* Hening Parlan, M.Si – Aktivis Lingkungan & Wakil Ketua MLH PP Muhammadiyah


*Trauma Lintas Generasi dan Ketahanan Keluarga*


Dalam pemaparannya, Anna Surti Ariani menekankan bahwa banyak luka psikologis dalam keluarga muncul bukan hanya dari hubungan saat ini, tetapi juga berasal dari trauma lintas generasi (trauma transgenerasi) yang diwariskan secara tidak disadari dari orang tua, kakek-nenek, hingga leluhur.


Pengalaman masa lalu seperti kemiskinan ekstrem, ketidakamanan hidup, dan keterbatasan ekonomi dapat membentuk ketakutan kolektif yang berdampak pada perilaku generasi berikutnya. Trauma ini dapat muncul dalam bentuk obsesi mengejar uang, ketergantungan pada pinjaman online dan judi berani, atau pola konsumsi berlebihan yang tidak terkendali.


“Kesembuhan dimulai dari kesadaran diri. Kita perlu mengenali luka tersebut, membangun identitas sebagai generasi baru, dan menerapkan pola pengasuhan yang lebih sehat bagi anak-anak kita,” ujarnya.


Ia juga menekankan pentingnya mencari bantuan ketika menangani kesulitan komunikasi dan hubungan keluarga, baik melalui teman terpercaya, profesional kesehatan jiwa seperti psikolog klinis dan psikiater, serta layanan konseling pastoral di gereja.

“Doa menguatkan iman, namun usaha nyata sebagai manusia adalah bagian penting dari proses pemulihan,” tambahnya.


*Menuju Rekomendasi Nasional Penguatan Keluarga*


Koordinator Seminar Natal, Pdt. Prof. Binsar J. Pakpahan, menyampaikan bahwa setiap kota menyelenggarakan seminar sehari penuh dengan format pemaparan materi, dialog interaktif, dan rekomendasi kebijakan tentang penguatan keluarga Indonesia.


Rangkaian seminar ini akan ditutup pada 29 Januari 2026 di Universitas Pelita Harapan, Jakarta. Sementara itu, hasil rekomendasi kebijakan dan edukasi keluarga akan dipublikasikan secara berani dan diumumkan secara resmi dalam perayaan Natal Nasional 2025 pada 5 Januari 2026.


Seluruh rangkaian kegiatan diharapkan memberikan kontribusi nyata bagi gereja, pemerintah, dan masyarakat luas dalam memperkokoh fondasi keluarga Indonesia menghadapi tantangan zaman.

Ayo! Baca Juga
Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler

Iklan


Iklan



نموذج الاتصال