Dari Dulang ke Dialog, Perempuan Desa Menambang Ketangguhan Melalui Komunikasi

Penulis: Ferdiana, Dosen Ilmu Komunikasi Institut Pahlawan 12 Bangka, Doktor Ilmu Komunikasi Pakar Komunikasi Publik berbasis gender.

Bangka, Growmedia,indo,com-
Hampir setiap sore, di sebuah tepian kolong “Aik Plat” Pemali terdengar obrolan rutin para perempuan sambil menggoyang-goyangkan dulang mereka untuk memisahkan pasir timah. Air yang keruh, cuaca yang menggigit bahkan kadang dingin menusuk tak jadi alasan untuk menghentikan aktivitas.

Tangan yang mengeriput menjadi tekstur kulit yang tampak biasa, sementara ada saja tawa kecil yang pecah dia antara lelah. Obrolan mereka terdengar biasa, harga beras, biaya sekolah anak, hingga adu nasib. Di balik lumpur dan bisingnya mesin penghisap pasir, komunikasi menjadi ruang nyaman mereka saling menguatkan satu sama lain.

Di Bangka, aktivitas yang mereka lakukan disebut dengan “ngelimbang”. Aktivitas ini terlihat tidak perlu skill khusus, namun pekerjaan ini cukup berat dan beresiko. Berendam di air berjam-jam, mengangkut pasir timah berkarung-karung hanya untuk mendapatkan 100 gram pasir timah tiap karung.

Tak jarang mereka pulang dengan tangan kosong. Tapi, keesokannya mereka kembali menjejakkan kaki di tempat yang sama dengan semangat sama. Mereka bukan hanya perempuan “pelimbang”, mereka juga penjaga “dapur ngebul”, seorang ibu dari anak-anak yang memerlukan biaya sekolah, bahkan sebagai penopang ekonomi keluarga.

Tak jarang dari mereka berkerja hingga larut hanya karena menunggu hasil pencucian pasir timah, bahkan setelahnya mereka tetap melanjutkan aktivitas domestik “wajib”. Beban mereka ganda, secara fisik maupun emosional yang tak banyak orang tahu.

Namun, ada hal mengharukan bukan hanya dari keuletan mereka, tapi cara mereka berkomunikasi satu sama lain. Sebagai makhluk multitasking, tangan bergerak, mulut mereka bercerita berbagi kisah. Kisah yang tak asing seperti suami yang tak bekerja, biaya anak sekolah, anak sakit, harga beras bahkan hutang yang tak kunjung lunas.

Cerita-cerita seolah menjadi terapi, ditengah ketidakmampuan mereka menghadiri seminar motivasi. Tapi setiap obrolah getir di tengah deru suara mesin robin dan derasnya air sungai adalah sesi penting konseling tanpa nama.

Sebagai akademisi dan peneliti di bidang komunikasi, saya memandang apa yang mereka lakukan bukan sekedar obrolan biasa, melainkan bentuk self-disclosure (keterbukaan diri) yang tumbuh dari kepercayaan terhadap satu dengan yang lain.

Pada teori Social Penetration Theory (SPT) yang dikembangkan Irwin Altman dan Dalmas Taylor pada tahun 1973, hubungan manusia berkembang seperti lapisan bawang. Dan ternyata tanpa sadar itulah yang sedang mereka lakukan.

Membuka diri secara perlahan, menyampaikan kelelahannya tanpa takut dihakimi, berbagi rasa tanpa ada harapan mendapatkan simpati. SPT mungkin hanya diketahui bagi mereka yang mengenyam bangku kuliah, namun ternyata para perempuan “pelimbang” ini sudah lebih dulu mempraktikkannya dengan ketulusan luar biasa. Ketika satu perempuan dengan getir bercerita tentang banyaknya kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, yang lain menimpali “Kita ini tidak punya pilihan”. Kalimatnya sederhana tapi sarat makna yang terkadang bisa menjadi satu bab penuh dalam penjelasan pada sebuah buku.

Melalui dialog inilah proses komunikasi menjembatani tekanan hidup dengan ketenangan hati. Dialog yang menjadi proses menata emosi, membangun solidaritas, toleransi hingga menegoisaskikan peran dalam keluarga. Para perempuan “pelimbang” ini bukan hanya pekerja, tapi secara praktis mereka adalah pelaku komunikasi khususnya komunikator yang menjaga keseimbangan rumah tangga di tengah tekanan ekonomi. Simbol dulang piring dari bahan logam bahkan plastik tempat mereka menampung pasir menjadi metafora penting.

Bukan hanya sebagai wadah pasir timah, tapi juga wadah cerita. Dari dulang yang mereka putar dengan gerakan lincah, lahirlah obrolan yang memutar nasib. Dari aktivitas “ngelimbang” yang beradu dengan deru mesin, muncul dialog yang menjadi obat.

Kala malam tiba, sebagian dari mereka membawa kisah itu pulang bersama ke rumah. Menegoisasikan peran dengan suami, mengingatkan anak untuk makan dan belajar walaupun tubuh gontai. Tetapi, tidak semua percakapan berjalan mulus bak sinetron romantis, ada respon getir yang menyebabkan air mata dan pertengkaran.

Namun, melalui komunikais yang mulai terbuka perlahan, banyak diantara mereka yang menemukan cara mempertahankan keutuhan keluarga. Inilah salah satu bukti bahwa komunikasi bisa menjadi mekanisme bertahap hidup. Perempuan yang ditempatkan pada posisi kedua dalam sistem ekonomi dan budaya, menjadikan komunikasi sebagai bentuk perlawanan halus tapi penuh ketegasan.

Para perempuan “pelimbang” ini melunakkan patriarki dengan dialog, kesabaran dan empati tanpa harus berteriak menentang.
Sayangnya, ketangguhan ini jarang diakui. Dalam narasi publik pekerjaan mereka dianggap pekerjaan kasar, dilabeli sebagai aktor yang berkontribusi dalam merusak lingkungan. Padahal di balik label itu, tersimpan kecerdasan emosional yang tinggi.

Mereka mampu mengelola konflik, memahami perasaan orang lain, dan menjaga keharmonisan sosial, hal yang justru menjadi inti dari komunikasi efektif.

Ironisnya banyak program pemerintah yang berfokus pada pemberdayaan perempuan, tetapi aspeknya hanya pada pelatihan keterampilan atau bantuan modal UMKM. Padahal jika ditelisik, pengakuan terhadap aspek aksiologis atau nilai-nilai komunikasi yang mereka miliki seperti solidaritas, empati, toleransi hingga kemampuan menegoisasikan peran merupakan modal sosial yang tak ternilai.

Secara umum pandangan kita terhadap perempuan di desa adalah objek yang perlu diberdayakan. Padahal mereka adalah subjek yang sudah berdaya, karena mereka sudah berjuang dengan cara mereka sendiri, melalui komunikasi, kerja keras hingga doa lirih setiap langkah pulang dan pergi ke lokasi tambang.

Dalam dunia akademik, teori komunikasi sering lahir dari ruang urban dan konteks modern. Namun dari Desa Pemali, kita belajar bahwa teori bisa hidup di aliran sungai berlumpur dan sela-sela jari yang mengeriput.

Dari mereka membuktikan bahwa komunikasi relasional bukan hanya sebatas konsep abstrak, namun praktik dalam keseharian yang menjaga kewarasan manusia di tengah tekanan hidup yang kompleks.

Perempuan “pelimbang” menjadi guru yang tak bergelar, bahwa dialog bisa lahir dari aliran air yang keruh, tangan yang mengeriput, candaan kecil namun mampu menutup kesedihan.

Dunia kecil yang mereka bangun tanpa panggung, tanpa pengeras suara, tanpa publikasi akademik, tapi penuh kekuatan komunikasi sejati. Dunia sibuk mencari defenisi ketangguhan perempuan yang bersuara lantang, berpenampilan menarik bahkan menyandang gelar pendidikan bertingkat.

Tapi dunia lupa, bahwa di sudut-sudut desa terpencil seperti di hamparan kolong “Aik Plat” Pemali Bangka, kita bisa melihat dengan jelas perempuan-perempuan desa telah lebih dulu menambang makna hidup, dari dulang mereka lahir dialog, dari dialog lahir daya juang, dari daya juang lahir kehidupan.

Mereka tidak menunggu untuk disorot, namun sinar mereka sudah begitu terang dalam sunyi. Karena bagi mereka, berbicara bukan hanya menyampaikan kata-kata, melainkan menjaga harapan agar tidak tenggelam bersama lubang-lubang berlumpur bekas tambang yang entah kapan akan berakhir.(Red)


Penulis: Ferdiana, Dosen Ilmu Komunikasi Institut Pahlawan 12 Bangka, Doktor Ilmu Komunikasi Pakar Komunikasi Publik berbasis gender.

Ayo! Baca Juga
Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler

Iklan


Iklan



نموذج الاتصال