![]() |
| Penulis :Ferdiana, Dosen Ilmu Komunikasi Institut Pahlawan 12 Bangka, Doktor Ilmu Komunikasi Pakar Komunikasi Publik berbasis gender |
Bangka,Growmedia,indo,com-
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatat penurunan Indeks Ketimpangan Gender (IKG) cukup drastis, dari 0,490 pada tahun 2023 menjadi 0,379 pada tahun 2024.
Penurunan 0,111 poin ini bukan sekadar statistik. Ia adalah potret kecil dari pergeseran besar yang sedang terjadi, perempuan mulai punya ruang lebih setara dalam kesehatan, pendidikan, politik, dan pasar tenaga kerja. Namun, sebagai akademisi saya memandang “angka boleh naik atau turun, tapi realitas sosial selalu lebih kompleks dari yang tampak di grafik”.
Justru di sinilah pentingnya komunikasi publik yakni memastikan setiap pencapaian dipahami dengan jernih, dan setiap tantangan dibicarakan dengan jujur.
Penurunan ketimpangan gender ini didorong oleh banyak faktor. Di bidang kesehatan reproduksi, misalnya, perempuan yang melahirkan di luar fasilitas kesehatan turun dari 8,7% menjadi 3,8%. Ini berarti akses terhadap layanan kesehatan semakin membaik, dan kesadaran masyarakat meningkat.
Begitu pula dengan angka perempuan yang melahirkan pertama di usia di bawah 20 tahun turun dari 0,320 menjadi 0,310. Angka ini kecil, tapi perubahan kecil sering menjadi penopang perubahan besar.
Di ranah pendidikan dan politik, pergeseran terasa lebih kuat. Persentase perempuan di legislatif melonjak dari 9,52% menjadi 22,22%. Ini bukan hanya tentang menambah jumlah kursi yang diduduki perempuan, tetapi tentang memperluas ruang suara, perspektif, dan kepentingan perempuan dalam kebijakan publik.
Perempuan usia 25 tahun ke atas yang berpendidikan minimal SMA juga naik dari 37,18% menjadi 38,05%. Perlahan tetapi pasti, perempuan Bangka Belitung makin dekat dengan kesempatan yang sama untuk berkembang.
Sebagai seorang yang bergiat di bidang komunikasi publik berbasis gender, saya melihat penurunan IKG ini sebagai bahan bakar untuk memperkuat narasi positif tentang perempuan.
Pemerintah daerah, dinas terkait dan komunitas bisa memanfaatkan capaian ini sebagai success framing: “bahwa pembangunan manusia tidak bisa dilepaskan dari kualitas hidup perempuan, bahwa investasi pada kesehatan dan pendidikan perempuan berdampak nyata, dan bahwa perubahan itu mungkin asalkan dilakukan bersama.
Narasi keberhasilan seperti ini penting untuk membangun kepercayaan publik. Masyarakat perlu tahu bahwa kebijakan yang dirancang pemerintah bukan hanya berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar menyentuh hidup mereka.
Lonjakan perempuan di legislatif adalah sinyal kuat bahwa pintu-pintu politik mulai lebih terbuka. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa perempuan yang sudah berhasil masuk ke ruang pengambil keputusan tersebut. Bahwa mereka bukan sekadar mengisi kuota, tetapi mampu memperjuangkan kebijakan yang peka gender, dan berkomunikasi dengan warga, termasuk perempuan akar rumput.
Di desa-desa lokasi tambang timah, pesisir, maupun sentra UMKM perempuan masih bergulat dengan beban ganda. Mereka bekerja, sekaligus tetap memikul tanggung jawab domestik dan pengasuhan. Di banyak keluarga, perempuan adalah tulang punggung yang nyaris tak pernah muncul dalam laporan pembangunan.
Karena itu, narasi partisipasi perempuan harus menyentuh dua ranah yakni ruang publik dan ruang domestik. Statistika memberi gambaran besarnya, tetapi kisah perempuanlah yang menjelaskan maknanya.
Penurunan IKG seharusnya tidak membuat kita cepat puas. Di balik angka yang membaik, masih ada pekerjaan Panjang yakni masih ada wilayah yang sulit dijangkau layanan kesehatan, masih ada perempuan yang bekerja tanpa perlindungan sosial, masih ada stereotip gender yang membatasi ruang gerak perempuan, dan masih kuatnya budaya patriarki yang membebani perempuan dengan kerja domestik tak berbayar.
Oleh karena itu, kampanye pemberdayaan perempuan harus terus digaungkan. Baik melalui media, ruang diskusi desa, komunitas perempuan, hingga kanal digital yang lebih dekat dengan anak muda.
Komunikasi publik perlu memastikan bahwa masyarakat memahami bahwa IKG turun bukan karena perempuan tiba-tiba lebih kuat, tetapi karena struktur sosial mulai berubah. Dan perubahan ini harus dijaga, dijalankan, dan diperluas.
Penurunan IKG ini memberi pesan penting yakni ketika negara, masyarakat, dan komunitas perempuan bergerak bersama maka perubahan itu nyata.
Bagi perempuan Bangka Belitung yang bekerja di tambang timah, berdagang di pasar, mengolah UMKM kecil, mengurus rumah, mendampingi anak sekolah, hingga memimpin organisasi, kabar ini adalah pengakuan bahwa perjuangan mereka mulai terlihat dalam data dan kebijakan. Tetapi perjalanan masih panjang.
Kesetaraan bukan tujuan akhir, melainkan proses yang harus terus dipelihara. Dan suara perempuan dari desa hingga parlemen adalah kunci agar perubahan tidak hanya terjadi hari ini, tetapi menjadi warisan bagi generasi berikutnya.
Harapan untuk IKG 2025 adalah agar penurunan angkanya benar-benar terasa dalam hidup perempuan sehari-hari. Semoga tahun 2025 ini menjadi tahun ketika perempuan di desa-desa terpencil lebih mudah mendapat layanan kesehatan, semakin banyak perempuan bekerja dengan perlindungan yang layak, lebih banyak suara perempuan hadir di ruang politik, dan dukungan untuk kerja domestik serta pengasuhan semakin kuat.
Jika pemerintah, dunia usaha, dan komunitas perempuan terus berjalan bersama, maka IKG 2025 bukan hanya angka di laporan statistik, tetapi tanda bahwa hidup perempuan di rumah, di pasar, di tambang, dan di sekolah menjadi lebih adil dan lebih manusiawi.
Penulis: Ferdiana, Dosen Ilmu Komunikasi Institut Pahlawan 12 Bangka, Doktor Ilmu Komunikasi Pakar Komunikasi Publik berbasis gender.





