Betungkah: Perlawanan Halus Masyarakat Pesisir Bangka Terhadap Kerusakan Alam

 

Penulis: Lakenu, Ketua Umum Maritim Muda Kabupaten Bangka


Bangka Belitung,Growmedia,indo,com-
Kerusakan lingkungan akibat tambang timah di Bangka bukan lagi hal baru. Lubang tambang merambah daratan, sementara aktivitas tambang laut mengubah bentang alam pesisir dan mengganggu ruang hidup masyarakat. Laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan utama perlahan kehilangan daya dukungnya. Bagi warga pesisir, masalah ini bukan sekadar persoalan lingkungan semata, melainkan ancaman nyata terhadap keberlanjutan hidup mereka. Ketergantungan pada komoditas tambang juga menciptakan kesejahteraan semu – ketika sumber daya menipis atau aktivitas tambang berhenti, masyarakat ditinggalkan dengan lanskap yang rusak dan pilihan ekonomi yang semakin terbatas.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat Pangkal Niur menunjukkan cara yang berbeda dalam merespons perubahan yang terjadi. Melalui tradisi betungkah, warga turun ke pesisir saat air surut untuk mencari kerang dengan metode tradisional. Praktik yang tampak sederhana ini menyimpan nilai penting tentang bagaimana masyarakat memandang laut sebagai ruang hidup yang harus dijaga dan dirawat.

Di sinilah makna betungkah menjadi krusial: ia bukan sekadar permainan tradisional atau atraksi wisata, melainkan penegasan bahwa laut adalah sumber hidup, bukan objek yang hanya untuk dikeruk habis oleh logika eksploitatif tambang. Betungkah memiliki makna simbolik sebagai bentuk perlawanan masyarakat terhadap kerusakan lingkungan akibat tambang laut ilegal.

Perlawanan terhadap eksploitasi alam tidak selalu harus berupa konflik terbuka. Dalam banyak kasus, ia juga hidup dalam praktik budaya yang terus dijalankan oleh masyarakat. Betungkah menjadi contoh bagaimana kebudayaan dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk mempertahankan hubungan dengan alam sekaligus menegaskan sikap terhadap kerusakan yang terjadi.

Tradisi betungkah bahkan dapat diadaptasi sebagai alat perlawanan terhadap kerusakan lingkungan baik di darat maupun laut di seluruh Pulau Bangka. Sebab, seni dan budaya adalah bentuk perlawanan yang paling halus, dan betungkah merupakan perlawanan melalui pelestarian. Ia bukan sekadar tradisi pesisir yang patut dilestarikan, melainkan praktik nyata yang menunjukkan bahwa masyarakat memiliki cara sendiri untuk menjaga kelangsungan alamnya.

Ayo! Baca Juga
Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler

Iklan


Iklan



نموذج الاتصال