Indonesia Sampaikan Gagasan Tentang Tata Kelola Air di WWF


 Jakarta, Growmedia-indo.online-

World Water Forum (WWF) ke-10 sedang berlangsung di Bali sejak 18 hingga 25 Mei 2024. Indonesia sebagai tuan rumah berkesempatan besar menyampaikan gagasan tentang tata kelola air.

Air bukan hanya untuk kebutuhan pangan, tapi juga untuk kesejahteraan. Sesuai tema yang diangkat pada WWF tahun ini, "Water for Shared Prosperity" atau "Air untuk Kesejahteraan Bersama".

Sepintas, masalah air terdengar cukup sederhana. Bahkan, di Indonesia, nyaris tidak ada masalah berkaitan dengan air. Tetapi, jika ditelaah lebih dalam, ancaman krisis air seperti yang diprediksi oleh World Resources Institute (WRI) bahwa Indonesia akan mengalami krisis air pada 2040 mulai dirasakan.

Cukup aneh sebenarnya, saat musim penghujan air melimpah ruah hingga menyebabkan banjir di berbagai penjuru Indonesia, tetapi pada musim kemarau ribuan desa mengalami kekurangan air bersih. Begitulah faktanya. Air bersih mulai sulit dijangkau. Bahkan, Kementerian Kesehatan menyebut biaya membeli air bersih mulai mahal seiring banyaknya air tidak layak konsumsi akibat pencemaran bakteri Escherichia coli (E coli).

Isu Global

Permasalahan air menjadi isu global. Para pimpinan negara berkontemplasi mencari solusi. Berbagai pemicu ancaman krisis air diurai satu per satu. Terdapat beberapa faktor yang dianggap paling dominan menyebabkan krisis air bersih. Di antaranya, penggunaan air berlebihan akibat bertambahnya populasi manusia.

Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) memprediksi jumlah penduduk di dunia mencapai 8 miliar jiwa pada pertengahan November 2022. Pada tahun yang sama, World Population Prospects melaporkan bahwa populasi manusia di dunia terus bertambah meskipun laju pertumbuhannya melambat.

Pertumbuhan populasi penduduk yang sangat tinggi mengakibatkan kebutuhan air juga semakin besar, baik di bidang industri, pertanian, dan konsumsi. Sementara, pada waktu yang bersamaan, ketersediaan air tanah semakin berkurang. Laporan World Resource Institute (WRI) menyebutkan, pada 1960 total volume air yang digunakan untuk kebutuhan manusia hanya sekitar 2 ribu kilometer kubik per tahun. Kemudian, pada 2014 meningkat secara signifikan menjadi 5 ribu kilometer kubik.

Food and Agriculture Organization (FOA) menyebutkan bahwa terjadinya perubahan iklim seperti pola hujan yang tidak terduga menyebabkan kekeringan yang berkepanjangan. Kenaikan suhu global memicu penguapan permukaan air laut sehingga pasokan air menurun.

Kesepakatan Bersama

Melalui WWF ke-10 yang digelar di Bali diharapkan persoalan-persoalan yang memicu terjadinya krisis air bersih bisa segera ditangani. Harus ada kesepakatan bersama para pemimpin untuk membuat kebijakan politik dalam rangka menjaga kelestarian air demi keselamatan dunia.

Bagi masyarakat yang tidak memiliki kesempatan duduk di forum WWF, juga harus berkontribusi dalam menjaga kelestarian air. Sekecil apapun tindakan yang bisa dilakukan untuk menjaga bumi dari krisis air bersih harus dilakukan. Setidaknya, dilakukan dari hal kecil, seperti tidak membuang limbah rumah tangga secara sembarangan yang dapat memicu menurunnya kualitas air.

Kemudian, menggunakan air dengan bijak, tidak menebang pohon agar pasokan air tanah tetap terjaga, dan berbagai langkah sederhana lainnya. Jika penduduk di dunia senantiasa menjaga kelestarian air meskipun dengan cara sederhana, maka krisis air bersih tidak akan terjadi. Ayo, jaga air untuk keselamatan dunia.


Sumber: detik.com

0 Komentar